Sabtu, 02 Juli 2011

5 Manfaat Sambiloto Bagi Kesehatan

Sambiloto (Andrographis paniculata) digunakan sebagai ramuan obat sejak jaman dulu. Tanaman ini berasal berasal dari India. Sambiloto juga dapat ditemukan di daerah lain, seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Sambiloto juga termasuk tanaman herbal untuk kesehatan manusia.
Selain alami, tanaman obat tradisional yang telah dipelajari sebelumnya dan telah terbukti efektivitasnya ini juga dikenal tak memiliki efek samping. Di Tanah Air, sudah banyak dijual berbagai produk sambiloto yang biasanya berupa kapsul. Apa saja penyakit yang bisa diatasi daun sambiloto?
1. Flu, sakit kepala
Campurkan 1 gram bubuk kering sambiloto ke dalam secangkir air panas kemudian minum tiga atau empat kali sehari.

2. Demam
Haluskan daun sambiloto, tambahkan setengah gelas air, saring, dan minum. Daun segar yang digiling halus juga bisa digunakan sebagai pereda demam.

3. Batuk dan hipertensi
Ambil lima hingga tujuh daun segar sambiloto dan campur ke dalam air panas. Tambahkan madu secukupnya dan aduk. Minum tiga kali sehari.

4. Infeksi telinga dan sakit gigi
Untuk infeksi telinga, cuci daun kemudian peras sambiloto hingga ada airnya. Gunakan cairan tersebut sebagai obat tetes telinga. Untuk sakit gigi, rebus 9-15 gram daun dengan tiga gelas air. Lalu, saring air rebusan minum dua kali sehari.

5. Diabetes
Rebus setengah tangan daun sambiloto segar dengan tiga gelas air. Saring air rebusan tersisa setelah dua seperempat cangkir. Sisihkan dan tiga perempat cangkir memasak dan minum tiga kali sehari setelah makan. (MIcom)

Jika Balita Melakukan Masturbasi

Orangtua biasanya kaget ketika melihat si kecil melakukan masturbasi karena mengira hal tersebut hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa. Kenapa ada balita yang senang melakukan masturbasi?
Anak-anak kecil yang melakukan masturbasi memiliki alasan yang sama dengan orang dewasa, yaitu mendapatkan kenikmatan tersendiri serta ingin mengeksplorasi bagian tubuhnya terutama alat kelaminnya.
Karena pada usia tertentu terutama saat balita, alat kelamin menjadi lebih peka terhadap suatu rangsangan sehingga memberikan sensasi tersendiri yang menyenangkan bagi anak.
Namun masturbasi yang dilakukan oleh balita bukan didasari oleh fantasi seksual atau pikiran yang kotor, tapi hanya untuk mendapatkan reaksi alamiah dengan mengeksplorasi alat kelaminnya yang menjadi lebih peka.
Seperti dikutip dari Babycenter, Senin (26/7/2010) jika orangtua melihat anaknya melakukan masturbasi, maka sebaiknya tidak langsung memarahi atau menghukum si anak.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk mengatasinya, yaitu:
Jangan panik
Meskipun melihat anak balita menyentuh alat kelaminnya akan membuat orangtua merasa tak nyaman, tapi tak perlu panik. Karena masturbasi pada anak-anak tidaklah berhubungan dengan seks, dan anak belum mengerti tentang seks.
Karenanya orangtua tidak perlu memarahi atau menghukum anaknya jika tertangkap sedang melakukan masturbasi. Karena hukuman akan membuat anak melakukan hal ini secara sembunyi-sembunyi dan menimbulkan rasa bersalah yang mendalam pada diri si anak.
Mengalihkan perhatiannya
Meskipun masturbasi pada balita adalah hal yang normal, tapi hal ini akan menjadi sesuatu yang tidak pantas jika dilakukan di depan umum.
Karenanya cobalah untuk mengalihkan perhatiannya, misalnya dengan mengajaknya bermain di luar rumah atau memberinya permainan yang mengharuskannya untuk menggunakan tangan misalnya mainan balok kayu, melempar bola atau permainan lain. Sehingga hal ini akan membuat tangan anak keluar dari celana serta mengalihkan pikirannya.
Lihatlah reaksi dari orangtua
Percaya atau tidak, reaksi orangtua terhadap anaknya yang melakukan masturbasi bisa membuat anak merasa sangat bersalah dan menganggap hal yang dilakukannya adalah kotor, nakal dan menjijikkan.
Hal ini akan membuat anak berpikir perasaan seksual akan selalu berhubungan dengan rasa bersalah dan malu, serta ada kemungkinan anak mengalami hambatan seksual saat dewasa nanti.
Berikan perhatian lebih pada anak
Memberikan perhatian lebih terutama dengan meningkatkan kontak fisik akan membantu mengurangi perilaku masturbasi yang dilakukan anak.
Karena kontak fisik seperti pelukan, ciuman dan rangkulan dari orangtua akan memberikan anak rasa nyaman, untuk itu pastikan anak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orangtua setiap harinya.
Berikan batasan pada anak
Usahakan untuk memberi pengertian pada anak bahwa aktivitas yang dilakukannya tersebut bersifat sangat pribadi, sehingga anak tidak boleh melakukannya di depan umum kecuali di kamar mandi atau kamar tidur.
Selain itu beritahu pada anak bahwa sebagian tubuhnya bersifat pribadi, yang berarti tidak ada seorang pun kecuali dirinya, orangtua dan dokter yang boleh menyentuhnya.
health.detik.com

Perlukah Pendidikan Seks?

Setiap anak muda memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan seks secara akurat dan seimbang, termasuk informasi tentang alat kontrasepsi, misalnya kondom. Lengkapi dengan penjelasan mengenai pelayanan kesehatan yang profesional, seks yang aman, dan sebagainya. Jangan sampai hak itu terabaikan, gara-gara kita lebih percaya mitos.

Mitos: Pendidikan seks hanya perlu diberikan pada orang yang mau menikah.
Fakta: Menurut sebuah penelitian, sikap seperti itu tidak bakal menunda aktivitas seksual di kalangan remaja. Justru pemahaman yang sangat sedikit dan keliru tentang seksualitas memudahkan banyak remaja terjerumus ke dalam perilaku seks tidak sehat.

Mitos: Pendidikan seks mendorong para pelajar menjadi aktif secara seksual.
Fakta: Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengevaluasi 47 program di Amerika Serikat dan beberapa negara lain. Dalam 15 studi, pendidikan seks dan HIV/AIDS menambah aktivitas seksual dan tingkat kehamilan serta infeksi menular seksual.
Namun, 17 studi lain menunjukkan, pendidikan seks dan HIV/AIDS menunda aktivitas seksual, mengurangi jumlah pasangan seksual, juga mengurangi tingkat kejadian infeksi menular seksual serta kehamilan yang tak direncanakan.

Mitos: Mengajarkan tentang alat kontrasepsi akan mendorong para pelajar aktif secara seksual dan meningkatkan angka kehamilan pada remaja.
Fakta: Para ahli yang telah mempelajari isu ini menyimpulkan, pendidikan tentang seks dan HIV/AIDS yang komprehensif, termasuk program ketersediaan kondom, tidak menambah aktivitas seksual, tetapi justru efektif dalam mengurangi perilaku seksual berisiko tinggi di antara para remaja.

Mitos: Kerap terjadi kegagalan alat kontrasepsi, sehingga kita lebih baik mengajari para remaja untuk bersikap menghindarinya.
Fakta: Kontrasepsi modern sangatlah efektif, asalkan memilih jenis yang benar-benar cocok dan digunakan secara benar. Rata-rata kehamilan pada perempuan yang menggunakan suatu jenis pil sekitar 0,03 persen, sementara yang memakai kondom untuk perempuan sekitar 21 persen, dan yang tanpa KB sekitar 85 persen. Bandingkanlah.

Mitos: Alat kontrasepsi tidak menangkal HIV dan infeksi menular seksual lainnya.
Fakta: Memang hanya kondom yang dalam memberikan perlindungan yang signifikan terhadap penularan infeksi seksual, termasuk HIV. Itu sebabnya para remaja sebaiknya mendapat pendidikan yang benar mengenai kondom.

Mitos: Kondom memiliki angka rata-rata kegagalan yang tinggi.
Fakta: The National Institutes of Health (TNIH) menjelaskan, kondom sangat efektif untuk menangkal penularan HIV dan mencegah kehamilan. TNIH juga melaporkan, studi laboratorium memperlihatkan bahwa kondom mampu mencegah penyakit akibat infeksi menular seksual yang lain seperti gonorea, klamidia, dan trichomonasiasi.

Mitos: Kondom tidak dapat melindungi kita dari HPV (Human papillomavirus).
Fakta: Kondom memang tidak dapat menangkal infeksi virus pada bagian tubuh yang tidak tertutup kondom. Namun, TNIH melaporkan, penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penyakit yang terkait dengan HPV, misalnya kanker serviks. Penyakit jenis ini dapat dicegah dengan penggunaan kondom secara konsisten dan efektif, serta deteksi dini HPV melalui pemeriksaan pap smear.

Mitos: Kondom tidak efektif untuk mencegah penularan HIV.
Fakta: TNIH mengonfirmasikan bahwa kondom merupakan alat kesehatan masyarakat yang efektif untuk melawan infeksi HIV. Studi lain di Eropa yang disebut pasangan HIV-serodiscordant (pasangan di mana salah satunya sudah terinfeksi HIV dan yang satu sehat), menunjukkan tidak terjadi penularan pada pasangan yang sehat, di antara 124 pasangan yang menggunakan kondom setiap kali mereka berhubungan seks. Pada pasangan yang tidak secara konsisten menggunakan kondom, sekitar 12 persen terjadi penularan pada pasangan yang sebelumnya tidak terinfeksi. @ rin(kompas)

http://ibuprita.suatuhari.com/perlukah-pendidikan-seks/#

Sabtu, 28 Mei 2011

RHINOS SR

KANDUNGAN
Loratadine 5 mg, Pseudoefedrin HCl 120 mg.
 
INDIKASI
Menghilangkan gejala-gejala yang berkaitan dengan rinitis alergika dan selesma/pilek termasuk hidung tersumbat, bersin-bersin, rinore (ingusan), pruritus (gatal-gatal), dan lakrimasi (proses pembentukan air mata).
 
KONTRA INDIKASI
Pasien yang menerima terapi penghambat mono amin oksidase (MAO) atau dalam waktu 10 hari penghentian pengobatan.
Glaukoma sudut sempit, retensi urin, hipertensi berat, penyakit arteri koroner berat, hipertiroidisme.
 
PERHATIAN
Glaukoma, ulkus peptik stenosis, penyumbatan piloroduodenum, hipertrofi prostat atau penyumbatan leher kandung kemih, penyakit jantung dan pembuluh darah, peningkatan tekanan dalam mata, diabetes melitus, usia lanjut.
Interaksi obat : Metildopa, Mekamilamin, Reserpin, alkaloida veratrum, β-bloker, Digitalis, antasida, Kaolin.
 
EFEK SAMPING
Insomnia (susah tidur), mulut kering.
 
INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL
B: Baik penelitian reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko pada janin maupun penelitian terkendali pada wanita hamil atau hewan coba tidak memperlihatkan efek merugikan (kecuali penurunan kesuburan) dimana tidak ada penelitian terkendali yang mengkonfirmasi risiko pada wanita hamil semester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trisemester selanjutnya).
 
KEMASAN
Kapsul lepas lambat 5 x 10 butir.
 
DOSIS
Dewasa dan anak berusia 12 tahun ke atas : 2 kali sehari 1 kapsul.
 
PENYAJIAN
Dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau tidak
 http://medicastore.com/obat/7166/RHINOS_SR.html

Apa Jadinya Bila Mengunyah Makanan Terlalu Cepat?

Jakarta, Tidak sedikit orang yang makan dengan hanya mengunyah makanan beberapa kali dan kemudian buru-buru menelannya. Cara ini mungkin bisa menghemat waktu makan tetapi tidak untuk tubuh Anda. Apa yang terjadi bila mengunyah makanan terlalu cepat?

Bila Anda dikejar waktu, makan bergegas atau terlalu cepat sesekali tentu tidak akan menimbulkan banyak masalah selain sakit perut. Namun jika makan cepat sudah menjadi kebiasaan Anda, maka ada beberapa masalah kesehatan yang mengintai.

Berikut beberapa masalah kesehatan yang terjadi bila orang terbiasa makan terlalu cepat, seperti dilansir MedlinePlus, Sabtu (28/5/20110:

1. Sakit perut (indigestion and upset stomach)
Bila Anda makan terlalu cepat akan meningkatkan risiko gangguan pencernaan seperti sakit perut atau upset perut. Upset perut dan pencernaan biasanya memiliki banyak gejala misalnya sensasi terbakar dengan perasaan berat di perut (rasanya seperti makan batu), rasa pahit di mulut dan sakit di bagian perut.

Bila gangguan pencernaan ini sudah sangat parah, kadang-kadang sering dikira serangan jantung. Ketidaknyamanan tersebut biasanya mereda ketika tubuh memiliki kesempatan untuk memecah makanan yang terlalu cepat ditelah tersebut.

2. Berat badan naik dan oberitas
Otak dan perut bekerja sama untuk mengendalikan nafsu makan dan proses tersebut tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit bagi perut untuk berkomunikasi dengan otak dan memberi tahu bahwa Anda sudah merasa kenyang.

Jika Anda makan terlalu cepat, kalori akan menumpuk sebelum tubuh memiliki kesempatan memberitahu otak bahwa Anda sudah merasa kenyang. Karena mengandalkan ketidaknyamanan di perut (kepuasan emosional) dan bukan dari sinyal otak, maka orang yang makan terlalu cepat akan mengonsumsi terlalu banyak kalori yang membuatnya berisiko menjadi gemuk dan obesitas (kegemukan).

3. Tidak peka dengan sinyal lapar dan kenyang
Menurut Peace Health Medical Group of Washington, Alaska and Oregon, orang yang makan terlalu cepat tidak akan peka dengan sinyal rasa lapar dan kenyang. Dan bila kebiasaan makan terlalu cepat tidak diubah, maka Anda bisa kehilangan sinyal rasa lapar dan kenyang sama sekali. Bila hal ini terjadi, maka Anda dapat makan kapanpun sesuai dengan emosi bukan lagi sinyal dari tubuh dan otak.

Ini yang Terjadi Bila Perempuan Tidur Pakai Bra

 keterangan  lebe lanjut disini bozz   :>
http://health.detik.com/read/2011/05/28/160446/1649207/766/ini-yang-terjadi-bila-perempuan-tidur-pakai-bra?ld991103763

Ilmuwan Sydney Singer dan istrinya Soma Grismaijer pada tahun 1991 pernah menulis dalam bukunya 'Dressed To Kill: The Link Between Breast Cancer and Bras', yang berisi tentang perempuan yang ingin menghindari kanker payudara harus memakai bra dalam waktu sesingkat mungkin dan sebaiknya kurang dari 12 jam per hari.

"Waktu yang paling tepat untuk mengistirahatkan payudara dengan tanpa memakai bra adalah saat tidur. Jangan tidur dengan bra," kata Sydney Singer, seperti dilansir dari Chetday.

Menurut Sydney Singer, menggunakan bra terlalu lama dapat meningkatkan suhu jaringan payudara dan perempuan yang memakai bra memiliki kadar hormon prolaktin (hormon yang berfungsi merangsang kelenjar air susu) yang lebih tinggi. Kedua hal ini dapat mempengaruhi pembentukan kanker payudara.

Selain itu, terlalu sering menggunakan bra atau menggunakan bra terlalu ketat juga membahayakan kesehatan karena bisa membatasi aliran getah bening di payudara. Normalnya, cairan getah bening mencuci bahan limbah dan racun lain, serta menjauhkannya dari payudara.

Minggu, 15 Mei 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ARITMIA JANTUNG

I. Konsep Dasar Teori
A. Pengertian
Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges, 1999). Aritmia timbul akibat perubahan elektrofisiologi selsel miokardium. Perubahan elektrofisiologi ini bermanifestasi sebagai perubahan bentuk potensial aksi yaitu rekaman grafik aktivitas listrik sel (Price, 1994). Gangguan irama jantung tidak hanya terbatas pada iregularitas denyut jantung tapi juga termasuk gangguan kecepatan denyut dan konduksi (Hanafi, 1996).

B. Etiologi
Etiologi aritmia jantung dalam garis besarnya dapat disebabkan oleh :
a. Peradangan jantung, misalnya demam reumatik, peradangan miokard (miokarditis karena infeksi)
b. Gangguan sirkulasi koroner (aterosklerosis koroner atau spasme arteri koroner), misalnya iskemia miokard, infark miokard.
c. Karena obat (intoksikasi) antara lain oleh digitalis, quinidin dan obat-obat anti aritmia lainnya
d. Gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemia, hipokalemia)
e. Gangguan pada pengaturan susunan saraf autonom yang mempengaruhi kerja dan irama jantung
f. Ganggguan psikoneurotik dan susunan saraf pusat.
g. Gangguan metabolik (asidosis, alkalosis)
h. Gangguan endokrin (hipertiroidisme, hipotiroidisme)
i. Gangguan irama jantung karena kardiomiopati atau tumor jantung
j. Gangguan irama jantung karena penyakit degenerasi (fibrosis sistem konduksi jantung).

C. Manifestasi klinis
a. Perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi; bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menurun bila curah jantung menurun berat.
b. Sinkop, pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
c. Nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah
d. Nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.
e. demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan.

D. Pemeriksaan Penunjang
a. EKG : menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan tipe/sumber disritmia dan efek ketidakseimbangan elektrolit dan obat jantung.
b. Monitor Holter : Gambaran EKG (24 jam) mungkin diperlukan untuk menentukan dimana disritmia disebabkan oleh gejala khusus bila pasien aktif (di rumah/kerja). Juga dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi pacu jantung/efek obat antidisritmia.
c. Foto dada : Dapat menunjukkanpembesaran bayangan jantung sehubungan dengan disfungsi ventrikel atau katup
d. Skan pencitraan miokardia : dapat menunjukkan aea iskemik/kerusakan miokard yang dapat mempengaruhi konduksi normal atau mengganggu gerakan dinding dan kemampuan pompa.
e. Tes stres latihan : dapat dilakukan utnnuk mendemonstrasikan latihan yang menyebabkan disritmia.
f. Elektrolit : Peningkatan atau penurunan kalium, kalsium dan magnesium dapat mnenyebabkan disritmia.
g. Pemeriksaan obat : Dapat menyatakan toksisitas obat jantung, adanya obat jalanan atau dugaan interaksi obat contoh digitalis, quinidin.
h. Pemeriksaan tiroid : peningkatan atau penururnan kadar tiroid serum dapat menyebabkan.meningkatkan disritmia.
i. Laju sedimentasi : Penignggian dapat menunukkan proses inflamasi akut contoh endokarditis sebagai faktor pencetus disritmia.
j. GDA/nadi oksimetri : Hipoksemia dapat menyebabkan/mengeksaserbasi disritmia.

E. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi medis
Obat-obat antiaritmia dibagi 4 kelas yaitu :

- Anti aritmia Kelas 1 : sodium channel blocker
1) Kelas 1 A
a) Quinidine adalah obat yang digunakan dalam terapi pemeliharaan untuk mencegah berulangnya atrial fibrilasi atau flutter.
b) Procainamide untuk ventrikel ekstra sistol atrial fibrilasi dan aritmi yang menyertai anestesi.
c) Dysopiramide untuk SVT akut dan berulang

2) Kelas 1 B
a) Lignocain untuk aritmia ventrikel akibat iskemia miokard, ventrikel takikardia.
b) Mexiletine untuk aritmia entrikel dan VT

3) Kelas 1 C
Flecainide untuk ventrikel ektopik dan takikardi

- Anti aritmia Kelas 2 (Beta adrenergik blokade)
Atenolol, Metoprolol, Propanolol : indikasi aritmi jantung, angina pektoris dan hipertensi

- Anti aritmia kelas 3 (Prolong repolarisation)
Amiodarone, indikasi VT, SVT berulang

- Anti aritmia kelas 4 (calcium channel blocker)
Verapamil, indikasi supraventrikular aritmia

b. Terapi mekanis
1. Kardioversi : mencakup pemakaian arus listrik untuk menghentikan disritmia yang memiliki kompleks GRS, biasanya merupakan prosedur elektif.
2. Defibrilasi : kardioversi asinkronis yang digunakan pada keadaan gawat darurat.
3. Defibrilator kardioverter implantabel : suatu alat untuk mendeteksi dan mengakhiri episode takikardi ventrikel yang mengancam jiwa atau pada pasien yang resiko mengalami fibrilasi ventrikel.
4. Terapi pacemaker : alat listrik yang mampu menghasilkan stimulus listrik berulang ke otot jantung untuk mengontrol frekuensi jantung.

II. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian

- Riwayat penyakit
1) Faktor resiko keluarga contoh penyakit jantung, stroke, hipertensi
2) Riwayat IM sebelumnya (disritmia), kardiomiopati, GJK, penyakit katup jantung, hipertensi
3) Penggunaan obat digitalis, quinidin dan obat anti aritmia lainnya kemungkinan untuk terjadinya intoksikasi
4) Kondisi psikososial

- Pengkajian fisik
1) Aktivitas : kelelahan umum
2) Sirkulasi : perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi; bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit warna dan kelembaban berubah misal pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menruun bila curah jantung menurun berat.
3) Integritas ego : perasaan gugup, perasaan terancam, cemas, takut, menolak,marah, gelisah, menangis.
4) Makanan/cairan : hilang nafsu makan, anoreksia, tidak toleran terhadap makanan, mual muntah, peryubahan berat badan, perubahan kelembaban kulit
5) Neurosensori : pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
6) Nyeri/ketidaknyamanan : nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah
7) Pernafasan : penyakit paru kronis, nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.

B. Diagnosa keperawatan dan Intervensi

a. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan konduksi elektrikal, penurunan kontraktilitas miokardia.

Kriteria hasil :
1. Mempertahankan/meningkatkan curah jantung adekuat yang dibuktikan oleh TD/nadi dalam rentang normal, haluaran urin adekuat, nadi teraba sama, status mental biasa
2. Menunjukkan penurunan frekuensi/tak adanya disritmia
3. Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan kerja miokardia.

Intervensi :
1. Raba nadi (radial, femoral, dorsalis pedis) catat frekuensi, keteraturan, amplitudo dan simetris.
2. Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya denyut jantung ekstra, penurunan nadi.
3. Pantau tanda vital dan kaji keadekuatan curah jantung/perfusi jaringan.
4. Tentukan tipe disritmia dan catat irama : takikardi; bradikardi; disritmia atrial; disritmia ventrikel; blok jantung
5. Berikan lingkungan tenang. Kaji alasan untuk membatasi aktivitas selama fase akut.
6. Demonstrasikan/dorong penggunaan perilaku pengaturan stres misal relaksasi nafas dalam, bimbingan imajinasi
7. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas dan faktor penghilang/pemberat. Catat petunjuk nyeri non-verbal contoh wajah mengkerut, menangis, perubahan TD
8. Siapkan/lakukan resusitasi jantung paru sesuai indikasi
9. Kolaborasi :
- Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit
- Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
- Berikan obat sesuai indikasi : kalium, antidisritmi
- Siapkan untuk bantu kardioversi elektif
- Bantu pemasangan/mempertahankan fungsi pacu jantung
- Masukkan/pertahankan masukan IV
- Siapkan untuk prosedur diagnostik invasif
- Siapkan untuk pemasangan otomatik kardioverter atau defibrilator

b. Kurang pengetahuan tentang penyebab atau kondisi pengobatan berhubungan dengan kurang informasi/salah pengertian kondisi medis/kebutuhan terapi.

Kriteria hasil :
1. menyatakan pemahaman tentang kondisi, program pengobatan
2. Menyatakan tindakan yang diperlukan dan kemungkinan efek samping obat

Intervensi :
1. Kaji ulang fungsi jantung normal/konduksi elektrikal
2. Jelakan/tekankan masalah aritmia khusus dan tindakan terapeutik pada pasien/keluarga
3. Identifikasi efek merugikan/komplikasiaritmia khusus contoh kelemahan, perubahan mental, vertigo.
4. Anjurkan/catat pendidikan tentang obat. Termasuk mengapa obat diperlukan; bagaimana dan kapan minum obat; apa yang dilakukan bila dosis terlupakan
5. Dorong pengembangan latihan rutin, menghindari latihan berlebihan
6. Kaji ulang kebutuhan diet contoh kalium dan kafein
7. Memberikan informasi dalam bentuk tulisan bagi pasien untuk dibawa pulang
8. Anjurkan psien melakukan pengukuran nadi dengan tepat
9. Kaji ulang kewaspadaan keamanan, teknik mengevaluasi pacu jantung dan gejala yang memerlukan intervensi medis
10. Kaji ulang prosedur untuk menghilangkan PAT contoh pijatan karotis/sinus, manuver Valsava bila perlu.